Kenapa Surat Ar-Rahman
mengulang ayat yang sama
sampai puluhan kali?
Karena hati manusia mudah lelah.
Secara mental,
manusia lebih cepat mengingat
yang menyakitkan
daripada yang membahagiakan.
Masalah 1,
nikmat 10,
yang diingat tetap masalah.
Maka Al-Qur’an
melatih jiwa dengan pengulangan:
“Nikmat Tuhanmu yang mana
yang kamu dustakan?”
Bukan untuk menghakimi,
tapi menenangkan.
Syukur bukan sekadar adab iman.
Syukur adalah
terapi hati.
Ia menggeser fokus
dari “apa yang kurang”
ke “apa yang masih ada”.
Orang yang bersyukur
bukan berarti hidupnya ringan.
Tapi jiwanya
Surat Ar-Rahman
datang sebelum ancaman.
Allah mendahulukan
penyembuhan batin
sebelum peringatan.
Pengulangan ayat itu
seperti napas pelan
di tengah sesak hidup:
tenang,
ingat nikmat,
lalu lanjutkan langkah.
Kalau hari ini pikiran berat,
jangan jauh-jauh.
Buka Ar-Rahman,
dan biarkan Al-Qur’an
menata ulang jiwamu.
tidak runtuh oleh beratnya hidup.



No comments