Ilmu dan harta sering disebut berdampingan. Keduanya sama-sama bermanfaat. Jika salah guna, ilmu dan harta berubah madarat. Ilmu dan harta adalah anugrah, namun bila keliru letak bisa berbalik musibah.
Rasulullah ﷺ bersabda :
لا حَسَدَ إِلا في اثنَتَيْنِ، رَجلٍ آتاهُ الله مالاً فسُلِّطَ على هلَكَتِهِ في الحقِّ، ورجلٍ آتاهُ اللهُ الحِكمةَ، فهْوَ يَقْضي بهَا، ويُعَلِّمُها
" Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara. Seseorang yang Allah berikan harta untuknya dan dia salurkan untuk hal yang benar. Dan seseorang yang Allah beri hikmah untuknya. Dia mengamalkan dan mengajarkannya " HR Bukhari 73 Muslim 816 dari sahabat Abdullah bin Mas'ud
Hasad ada 2 macam; terpuji dan tercela. Hasad tercela adalah hasad yang timbul dari rasa benci, tidak suka, bahkan berharap kenikmatan yang dimiliki orang lain hilang. Parahnya jika ia ingin kenikmatan tersebut berpindah untuk dirinya.
Hasad tersebut di hadis adalah hasad yang terpuji. Hasad yang berarti keinginan dan harapan agar bisa memperoleh kebaikan sebagaimana orang lain telah memilikinya. Tanpa rasa benci. Bebas dari unsur tidak suka. Dibuktikan dengan ikut merasa senang ketika orang lain mempunyai kebaikan itu.
2 hal yang disebut Rasulullah ﷺ di dalam hadis adalah harta dan hikmah, yaitu ilmu. Keduanya menjadi sumber kebajikan dan mata air kedamaian jika diperoleh, dikelola, dan digunakan secara benar. Orang alim dan dermawan hidupnya sejuk dan tenang.
Menurut Ibnul Qayyim (Zadul Ma'ad 2/25), berbuat baik dan berbagi manfaat untuk sesama harus diupayakan sebisa mungkin, baik berwujud harta, kedudukan, tenaga, atau lainnya. Kata Beliau, " Orang baik lagi dermawan, dadanya paling lapang, jiwanya paling baik, dan hatinya paling damai. Orang kikir yang enggan berbuat baik, dadanya paling sempit, hidupnya paling sesak, dan selalu sedih susah "
Iya! Dermawan tidak selalu berbentuk harta. Kikir bukan terbatas tentang uang dan barang. Ilmu dan harta adalah obyek kedermawanan, juga terkait sifat kikir.
Kata Ibnul Qayyim (Madarijus Salikin 2/279), " Berderma dan berbagi ilmu merupakan puncak tingkatan kedermawanan. Berderma dengan ilmu lebih afdhal dibandingkan berderma dengan harta. Sebab, ilmu lebih mulia dibanding harta "
Wahai, orang alim. Jangan merasa terusik jika ada yang datang bertanya, menemui untuk meminta nasihat, berkirim pesan karena hendak memohon saran. Jangan dianggap mengganggu bila ada yang meminta waktu belajar, melobby untuk kajian, atau diharapkan kehadirannya guna menyampaikan satu dua patah kalimat hikmah.
Wahai, orang berharta. Jangan merasa terusik jika ada yang datang meminta bantuan dana, menemui untuk mengajak berwakaf, berkirim pesan karena memohon partisipasi donasi. Jangan dianggap mengganggu bila ada yang memberitahukan bahwa di sana perlu biaya membangun masjid, membangun pondok, meringankan beban musibah bencana, atau ada saudara yang sedang kesulitan.
Wahai, orang alim. Apa guna ilmu jika tidak diajarkan? Wahai, orang berharta. Apa guna harta bila tidak diinfakkan? Wahai, orang alim. Bukankah Allah mengalirkan rezeki dengan adanya orang-orang yang ingin menimba ilmu darimu? Wahai, orang berharta. Tidakkah berprasangka baik kepada Allah yang sudah membuka pintu-pintu amal jariyah dengan orang-orang yang menghubungi tentang donasi?
Jagalah keikhlasan! Jangan sia-siakan ilmu, jangan percumakan harta! Mengerikan dan amat menakutkan berita dari Rasulullah ﷺ tentang orang alim dan orang berharta di hari kiamat kelak. Mereka yang ingin dipuji-puji sebagai alim dan dermawan. Di hadapan Allah, mereka mengaku ikhlas, namun dikatakan kepada mereka, " Dusta kamu! ". Lalu dilemparkan ke neraka. Wal 'iyadzu billah.
Ketulusan hakikatnya cahaya yang menerangi. Ilmu dan harta jika disalurkan dengan tulus adalah pelita. Sayang, tulus itu tidak mudah. Ketulusan terus memudar. Nyalakan terangnya ketulusan dengan tidak berat hati saat berbagi ilmu, berderma harta. Hanya kepada Allah kita berharap agar diberi taufik untuk tulus tanpa putus.
https://t.me/anakmudadansalaf



No comments